Follow by Email

Senin, 14 November 2011

Programmable Logic Control

Programmable Logic Control

1. SEJARAH PLC

Sejarah atau kelahiran PLC dapat dihubungkan dengan kelahiran industry mobil. Seperti kita ketahui bahwa mobil atau bentuk mobil dari segala type senantiasa berubah sesuai dengan benutuhan pasar dan teknokogi, dengan demikian design bentuk mobil juga terus berubah. Perubahan ini dapat terjadi baik pada perubahan peralatan produksi maupun jaringan kontrolnya. Kondisi sudah tentu akan membutuhkan banyak waktu, tenaga dan biaya yang tidak sedikit.

Maka sebuah pabrik mobil di Oldsmobile Amerika Serikat (General Motor Company) pada tahun 1970, mencoba menerapkan prinsip-prinsip teknologi kendali dari hasil penelitian dan penelitian yang dikembangkan oleh perusahaan tersebut.

Banyak yang dapat dilakukan dalam penggunaan PLC sebagai peralatan kendali. Seperti pengendalian motor listrik dan instalasi industri lainnya. PLC meeupakan suatu system kendali berbentuk kecil namun kemampuan yang cukup besar, selain itu mampu mengikuti kebutuhan. Sehingga banyak untuk rancangan pengendali pada produksi produksi berskala besar.

Setelah melalui penelitian dan pengembangan selama 5 tahun system kendali PLC, tepatnya pada tahun 1976 oleh NEMA (National Electric Manufacturing Assosiation) secara resmi telah memberikan nama system kendali ini sebagai PC (Programmable Controlled). Sedangkan di Jepang PLC dikenal sebagai SC (Sequence Controlled). Sesuai dengan perkembangannya maka kini PLC dapat dioperasikan secara terpadu melalui computer dengan menggunakan perangkat khusus PLC. Dengan pengendalian ini maka PLC dapat juga dilakukan berbagai macam system pengendali antara lain: system pengendali secara manual (Open Loop), semi otomatis (quast closed loop) dan full otomatis (Closed loop).

2. FUNGSI DAN TUJUAN PLC

PLC yaitu suatu system perangkat pengendali terprogram dengan bantuan komponen elektronika digital yang menggunakan program memori dengan perintah-perintah didalamnya. Adapun fungsi PLC adalah untuk menggantikan fungsi-fungsi kendali konvensional seperti relay, timer, counter dan sequence. Kerja PLC adalah berdasarkan system digital, sehingga baik masukan ataupun keluaran dapat dilakukan secara digital.

3. KLASIFIKASI PLC

Sebelum menentukan PLC yang Akan digunakan perlu diperhatikan hal- hal sebagai berikut:

a. Keaneka ragaman bentuk

b. Tipe atau model PLC

c. Fasilitas perangkat keras dan perangkat lunak

d. Buku manual

e. Layanan purna jual (dan tentunya warranty dan consulting)

Mengenai keaneka ragman bentuk PLC dapal dilihat pada 2 keadaan yaitu: Keadaan jumlah Input Output (I/O) dan bentuk configurasinya. Adapu tipe PLC menurutjumlah I/O dapat dibagi atas:

a. Mikro dengan jumlah I/O kurang dari 32

b. Kecil dengan jumlah I/O kurang dari 128

c. Medium dengan jumlah I/O kurang dari 1024

d. Large dengan jumlah I/O lebih dari 1024

Sedangkan menurut bentuk konfigurasinya PLC dapat dibagi atas:

a. Tipe Paket

Adalah PLC dimana modul modul I/O, catu daya, serta CPU tidak terpisah atau dalam satu tempat

b. Tipe paket dengan ekspansi

Adalah tipe PLC yang dapat dikembangkan dengan menambah modul ekspansi. Dengan menambahkan I/O ekspansion card

c. Tipe Rak

Adalah tipe PLC dengan modul-modul I/O, catu daya, CPU terpisah dan ditempatkan dalam rak rak. Tipe rak ini lebih fleksibel sehingga modul modul I/O baik digital maupun analog dapat dipasangkan secara bersama-sama.

Sistem perawatan atau instalasi suatu PLC tidaklah sama pada setiap tipe atau model dari suatu pabrik pembuatnya. Untuk itu sebelum dilakukan instalasi perlu diperhatikan tipe atau model PLC yang akan digunakan dan melihat system rangkaian yang tertera pada buku petunjuk operasional yang dikeluarkan oleh pabrik pembuat PLC tersebut.

4. KEUNTUNGAN MENGGUNAKAN PLC

PLC merupakan suatu alat pengontrolan yang memiliki beberapa kelebihan dan keuntungan dibandingkan dengan siatem koncensional. Keuntungan tersebut antara lain:

1. Waktu respon yang cepat, sehingga segala perubahan logic (dari 0 ke 1 atau sebaliknya) dari peralatan input yang digunakan dapat terspon dengan cepat.

2. Mudah memperbaiki kontrolnya jika terjadi masalah atau kerusakan. Kerusakan dapat diketahui dan diperbaiki dengan cara mengecek dan mengedit program.

3. Program-program yang telah dibuat dapat dimodifikasi dengan cepat untuk menerima kondisi kerja yang baru,sehingga tidak perlu dilakukan penginstalan ulang.

4. Tersedia peralatan-peralatan kontrol, seperti internal relay, timer, counter dan sebagainya yang jumlahnya cukup banyak.

5. Ekonomis dalam hal perawatan dan mudah memastikan biaya pengembangan atau perubahan aplikasi program.

6. Sistem kerjanya lebih handal dan lebih mudah dalam pengoperasian.

Dalam pembahasan kontrol ini, penulis menggunakan PLC Merek Omron dengan tipe CPM1A, tipe ini sudah sangat popular dan instruksi-instruksinya sudah cukup familiar untuk teknisi di Indonesia.

5. INSTRUKSI DASAR PLC OMRON

Untuk memprogram PLC dibutuhkan instruksi-instruksi yang berupa kode kode yang dimengerti oleh PLC tersebut. Kode ini disebut juga dengan nama kode Mnemonik. kode mnemonik ini dimasukan dengan menggunakan Console. Bahasa pemrograman yang digunakan untuk melakukan pemrograman adalah “CX Programmer ” (yang berminat silahkan menghubungi email saya cucusofyans@gmail.com ) Berikut ini Instruksi-instruksi dasar yang digunakan untuk membentuk rangkaian kontrol sebagian besar terdiri dari:

1. Instruksi untuk memulai program

2. Instruksi untuk menyatakan akhir program

3. Instruksi untuk membentuk masukan

4. Instruksi untuk membentuk keluaran

5. Instruksi untuk menghubungkan blok-blok rangkaian

6. Instruksi delay/timer

Berikut ini akan dijelaskan beberapa instruksi yang sering dipakai dalam pemrograman PLC

1. Instruksi LD

Instruksi ini digunakan untuk memulai program garis atau blok pada rangkaian logic yang ditandai dengan kontak Normally Open (NO).

2. Instruksi LD NOT

Instruksi ini digunakan untuk memulai program garis atau blok pada rangkaian logic yang ditandai dengan kontak Normally Close (NC).

3. Instruksi AND

Instruksi ini digunakan untuk menghubungkan dua atau lebih kontak-kontak Normally Open secara seri.

4. Instruksi AND NOT

Instruksi ini digunakan untuk menghubungkan dua atau lebih kontak-kontak Normally Close secara seri.

5. Instruksi OR

Instruksi ini digunakan untuk menghubungkan dua atau lebih kontak-kontak Normally Open secara paralel.

6. Instruksi NOT OR

Instruksi ini digunakan untuk menghubungkan dua atau lebih kontak-kontak Normally Close secara Paralel.

7. Instruksi AND LD

Instruksi ini digunakan untuk menghubungkan dua blok rangkaian secara seri.

8. Instruksi OR LD

Instruksi ini digunakan untuk menghubungkan dua blok rangkaian secara seri

9. Instruksi Timer (TIM)

Merupakan instruksi yang digunakan sebagai waktu tunda dari kerja sistempada rangkaian kontrol. Instruksi ini mempunya dua macam kontak yaitu kontak NO dan NC, serta waktu tunda yang dapat kita setting sesuai dengan keinginan.

10. Instruksi DIFU (FUN(13))

Instruksi ini berfungsi agar ralay bekerja pada sisi naik dari input untuk satu waktu pembacaan. Instruksi ini dapat di program dengan menekan tombol FUN(13). Kontak internal relay dari DIFU hanya bekerja sesaat.

11. Instruksi DIFD (FUN(14))

Instruksi ini berfungsi agar ralay bekerja pada sisi turun dari input untuk satu waktu pembacaan. Instruksi ini dapat di program dengan menekan tombol FUN(14). Kontak internal relay dari DIFD hanya bekerja sesaat.

12. Instruksi Counter (CNT)

Counter dapat digunakan sebagai sebuah relay yang bekerja berdasarkan pengaturan penghitungan yang sudah ditentukan sebelumnya. Dimana nilai hitungan berkisar pada nilai 0 sampai dengan 9999

Counter bekerja dengan hitungan mundur dan akan menghasilkan output apabila nilai hitungan sudah tercapai. Output Counter dapat dikirim ke ekternal relay dengan melalui titik kontak NO/NC dari counter itu sendiri. Dan kedua titik kontak NO/NC dapat digunakan secara bersamaan.

Setelah nilai hitungan tercapai makahitungan tambahan dari stack register tidak akan direspon oleh counter,dan apabila resat input dimasukan maka counter akan reset atau akan kembali ke nilai hitungan yang telah ditentukan sebelumnya.

Program counter meliputi Count Input (Stack Register), reset input dan coil counter. Jika Count Input dimasukan (dari 0 ke 1) maka maka hitungan mundur akan dikurangi 1.

13. Instruksi KEEP (FUN(11))

Instruksi ini berfungsi untuk mempertahankan status bit ON sampai tombol reset ditekan.

14. Instruksi END (01)

Instruksi END berfungsi untuk menyatakan bahwa rangkaian kontrol yang dibuat telah selesai dijalankan. Dan sistem akan memulai lagi langkah dari awal (next cycle time).

(Pada modul berikutnya akan dibahas tentang PLC Omron)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar